Kamis, 20 Oktober 2016

KETIKA SEBUAH "NAMA KAMPUS" MENJADI GENGSI TERBESAR MAHASISWA

Ah.... kisah kampus ini adalah sekian balada yang mungkin dirasa diseluruh mahasiswa di indonesia, tak pelik sebuah pamor popularitas sebuah nama kampus menjadi tolak ukur, menjadi buah bibir bagi masyarakat. Sejatinya inilah negeriku INDONESIA yang hanya mementingkan popularitas dibanding kualitas (beberapa) aku sadari akhir - akhir ini kemerosotan moral anak bangsa kian menjadi - jadi, mengapa topic kita membahas popularitas nama kampus ?

Mungkin sebagian dari kita pernah merasakan awal - awal setelah lulus SMA berbondong - bondong mencari kampus terbaik, ternama, dan ter cetar hehe tidak hanya itu popularitas sebuah nama tempat pendidikan pun, menjadi tolak ukur bagi masyarakat, tetapi memang tak ada salah nya itu semua dilakukan sebuah nama sendiri terkadang menentukan kualitas dari sebuah pencapaian, ada pibahasa yang selalu saya ingat dari mulut ke mulut yakni "Ada Harga ada Barang.", Tapi yang murah belum tentu tak baik bukan ? di era sekarang ini sebetulnya pendidikan menengah atas hingga bawah tidak menjadi sebuah patokan, sebut saja banyak kasus - kasus kriminalitas dan penyimpangan sosial terjadi di sekolah maupun tempat pendidikan terbaik sekalipun, maka inti yang akan saya sampaikan adalah sebelum membuka topic pembahasan kali ini, KUALITAS ADA PADA PARADIGMA KITA bukan pada tempat kita mengenyam pendidikan , tetapi bagaimana cara kita mengunyah dan menelan dengan baik materi dan ilmu yang diberikan oleh para pendidik di tempat kita menimba ilmu ? setuju ? karena seberapapun ternamanya sebuah tempat pendidikan jika KITA tidak bisa dan tidak mau menyerap ilmu dengan baik itu menjadi bumerang tersendiri dan menjadi ke sia- sia an waktu serta biaya.

Mahasiswa kadang terlalu santai jika diberikan sebuah janji lulusan jaminan kerja atau bahkan menggunakan nama kampus jika lulusan negeri (ini) akan mudah mendapat pekerjaan, ah kawan itu semua hanya dari orang yang tidak berakal, kau cukup berilmu tak perlulah kau bahkan menggantungkan dirimu pada perusahaan gantungkanlah dirimu pada dirimu sendiri , kunci keberhasilan ada ditanganmu, maka belajarlah tanpa lelah agar kau tidak mudah termakan omongan yang bahkan tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Baiklah tanpa berbasa - basi mari kita masuk ke topic yang cukup membuka sedikit paradigma kita.

Berbincang sebelum adzan maghrib berkumandang saya yang pada saat itu latihan penyematan nama untuk wisuda di kampus tergeluk berbicara pada bapak pembimbing saya untuk penyematan, kira kira seperti ini :

"Pa, nanti wisuda bintang tamunya siapa? Penyanyinya maksudnya dengan nada penuh penasaran ".
Lalu beliau menjawab bla. Bla. Bla. Dan..sambungnya,

 "Tadinya mau pakai alumni kampus yang sudah jadi penyanyi itu d*n**s dan satu lagi saya lupa namanya dia juga penyanyi, tapi mereka tidak mau."
Tanya balik saya dengan nada penasaran kembali,

"Tidak mau apa tidak bisa? Padat ya pa schedulnya mungkin hehehe ."
Senyum dikitnya menjawab pembicaraan.

"Bukan tidak bisa tapi tidak mau, kecil katanya bayarannya ."
Saya terbelongo dengan maksimal semaksimalnya mata sifit ini dikeluarkan.

"Bukannya sudah kewajiban dan wajar saja jika alumni pun ikut berkontribusi ya pa? Setidaknya kampus ini pernah dinaunginya ?."

Jawabannya cukup memberikan kebijakan bagi saya pribadi.
Si bapa cuman tersenyum lalu melanjutkan aktifitas kami. Hehehe
Dalam hati penuh sekali tanda tanya, ketika puncak ketenaran, ketika jam terbang sudah mempuni, satu hal yang manusia lupa yakni merunduk seperti padi, tetap membumi melihat tanah sesekali melihat birunya awan.

Ah ka andai kaka (alumni) tahu, pribahasa yang sering digunakan oleh motivator yang sedang tersandung kasus yakni "berdamailah dengan masa lalu." Mungkin jika masa lalu KAMPUS tidak menjadi support utama tetapi jangan lupa perantara ada dikampus, dikampuslah saya bertemu dengan dosen - dosen yang berkompeten bahkan menurut saya ada beberapa dosen yang semestinya dia bisa mengajar dikampus yang lebih ternama tapi apa ? dedikasi mereka,loyalitas mereka dan mereka tahu bahwa awal mereka memulai adalah dari kampus ini, jika jaman kaka tidak ada seperti jaman saya besar kemungkinan kaka terlalu terambil hati hehe.

Saat ini mahasiswa memang dari dulu di tuntut mandiri, namun masih saja dengan noraknya masih menyangkut pautkan nama kampus? Eum. Bagi saya bukan soal kampus soal kepandaian personal, soal diri ini yang menyikapi sesuatu secara dewasa, soal diri ini yang mengenal balas budi.
Ketika kita memang membayar pendidikan tapi pendidikan membayar lebih dari ilmu yang kita dapat.

Ah kaka kaka ku, berdamailah, dewasalah, bersyukurlah dan berterimakasihlah, ketahuilah setidaknya namamu menjadi panutan yang selalu menjadi kebanggaan buah bibir kampus yang mana citramu menjadi baik, ah kaka ku jangan kau ambil hati isi tulisan ini.
Sebab ini adalah pertanyaan dari adik tingkatmu untuk mempertanggung jawabkan ilmu mu?
Setauku di sini saya belajar banyak tentang public.

Ah mungkin hanya setauku.
Teruntuk seluruh alumni se indonesia tulisan ini memang seakan sindiran tetapi percayalah ini adalah sebuah kasih sayang. Saling mengingatkan. Ketahuilah kebaikan selalu berbalas kebaikan .

Saya bangga,
Mahasiswa Komunikasi (Humas - Politeknik Lp3i Bandung ).
#polteklp3ibdg #prodipr_plb

0 komentar:

Posting Komentar