Hola... Back lagi di part 2 tentang lika liku anak kosan, kali ini aku akan menulis dengan gaya bahasa yang berbeda menyesuaikan rintihan hati ala anak kosan hehe...
yuk ! lanjuuuuuuut.....
"Ah......" dengan helaan nafas panjang aku merintih seakan mengeluh, bandung oh bandung kota cinta penuh pesona, kota cinta penuh kuliner, namun bagiku bandung seakan kota perjuanganku kota dimana aku teruji keadaan dan kesabaran, tak pelak kadang aku merasa jenuh, kesepian dan sendiri ini bukan tentang status bagiku ketika sebuah rasa muncul ini adalah soal kerinduan akan kehangatan romantisme yang terjadi pada diriku terhadap romantismeku pada keluarga-ku. Ya! di bandung aku tetap merasa rindu harumnya aroma masakan nenek dan mamah, di bandung aku merindukan celotehan mamah, di bandung aku merindukan kejailan nenek, dibandung aku merindukan pelukan keluargaku. Di bandung aku MENYESAL membuang waktuku hanya untuk rasa penasaranku.
Andai kau tahu kawan, jika hembusan angin yang menyapamu bisa berbicara mungkin ia akan katakan aku sangat ingin seperti kalian, bercengkrama dengan mereka. Entah hanya sebuah candaan ringan atau hanya duka yang sepatutnya kita syukuri.
Aku rindu celotehan mu mah....
Disini aku bagaikan gadis kecil yang berlaku mandiri dan dewasa, demi sesuap ilmu kakiku mestilah ringan melangakah, setiap pagi aku mencoba melawan rasa malas untuk bangun pagi, tak ada lagi teriakan alarm mu yang menghampiri telingaku.
Entah sudah berapa banyak butir air mata yang telah ku telan kembali hanya dengan memeluk erat rasa rindu ini. Mereka pikir aku cukup bahagia memiliki kekasih, percayalah rasa cinta pada keluarga jelas berbeda. begitupun rasa cinta terhadap tuhan sang pencipta semesta.
Aku terkantuk, apapun kulakukan sendiri dan kuatasi sendiri, aku lelah tapi sayang lelahku tak sebanding besar dengan lelahmu sungguh aku tak pantas untuk mengeluh.
yuk ! lanjuuuuuuut.....
"Ah......" dengan helaan nafas panjang aku merintih seakan mengeluh, bandung oh bandung kota cinta penuh pesona, kota cinta penuh kuliner, namun bagiku bandung seakan kota perjuanganku kota dimana aku teruji keadaan dan kesabaran, tak pelak kadang aku merasa jenuh, kesepian dan sendiri ini bukan tentang status bagiku ketika sebuah rasa muncul ini adalah soal kerinduan akan kehangatan romantisme yang terjadi pada diriku terhadap romantismeku pada keluarga-ku. Ya! di bandung aku tetap merasa rindu harumnya aroma masakan nenek dan mamah, di bandung aku merindukan celotehan mamah, di bandung aku merindukan kejailan nenek, dibandung aku merindukan pelukan keluargaku. Di bandung aku MENYESAL membuang waktuku hanya untuk rasa penasaranku.
Andai kau tahu kawan, jika hembusan angin yang menyapamu bisa berbicara mungkin ia akan katakan aku sangat ingin seperti kalian, bercengkrama dengan mereka. Entah hanya sebuah candaan ringan atau hanya duka yang sepatutnya kita syukuri.
Aku rindu celotehan mu mah....
Disini aku bagaikan gadis kecil yang berlaku mandiri dan dewasa, demi sesuap ilmu kakiku mestilah ringan melangakah, setiap pagi aku mencoba melawan rasa malas untuk bangun pagi, tak ada lagi teriakan alarm mu yang menghampiri telingaku.
Entah sudah berapa banyak butir air mata yang telah ku telan kembali hanya dengan memeluk erat rasa rindu ini. Mereka pikir aku cukup bahagia memiliki kekasih, percayalah rasa cinta pada keluarga jelas berbeda. begitupun rasa cinta terhadap tuhan sang pencipta semesta.
Aku terkantuk, apapun kulakukan sendiri dan kuatasi sendiri, aku lelah tapi sayang lelahku tak sebanding besar dengan lelahmu sungguh aku tak pantas untuk mengeluh.
0 komentar:
Posting Komentar